Liam menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah Shenina. Udara siang itu cukup terik, namun ada senyum yang tak kunjung reda dari wajahnya, seolah matahari pun tak sanggup menyaingi hangatnya perasaan Liam hari ini.
Tak butuh waktu lama hingga pintu rumah terbuka dan Shenina muncul dari baliknya. Cahaya matahari siang menyentuh siluet tubuhnya, memantulkan cahaya hangat pada dress sederhana yang ia kenakan. Dress itu berwarna pastel lembut, sejenis pink muda yang nyaris menyerupai warna bunga sakura di awal musim semi. Potongannya sederhana, dengan lengan panjang dan kerah bulat yang memberi kesan bersih dan manis. Kancing kecil menghiasi bagian depan, menyatu harmonis dengan lipatan halus di bagian roknya yang jatuh hingga sedikit di bawah lutut.
Begitu mata mereka bertemu, Shenina tersenyum kecil. Langkahnya ringan saat menghampiri mobil Liam. Cowok itu pun segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuknya.
“Siang,” ucap Shenina pelan, sedikit menunduk.
“Siang juga,” balas Liam sambil mengusap tengkuknya, tak bisa menahan senyum. “Kamu udah siap ngajarin aku jadi baker handal?”
Shenina terkekeh pelan sebelum duduk di kursi penumpang. “Siap, kalau kamu nggak nyusahin di dapur.”